Find us on Google+ E R M A N POENYA: MAKALAH: Tariqat

Ads 468x60px

.

Labels

Jumat, 05 Juli 2013

MAKALAH: Tariqat


MAKALAH AKHLAK TASAWUF 
“TARIQAT” 



Oleh: 
Nama :Herman Sugianto 
Nim :15.1.11.6.019 


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI 
FAKULTAS TARBIYAH 
IPS EKONOMI 




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
           Bagi setiap bangsa mistik merupakan keyakinan yang dipandang sebagai kemajuan dalam kehidupan rohani, juga diartikan sebagai”perjalanan” atau “hijrah”. Kaum sufi sendiri yang bertujuan mencari Tuhan dan menyebut dirinya sebagai pengembara “salik” dan ia melakukan pengembaraan tersebut dengan pelahan-lahan melalui lintasan-lintasan (tarekat) guna mencapai tujuan untuk bersatu dengan kenyataan fana` fil Haq. Boleh jadi ia bisa membuat peta perjalanan rohaninya, dan tidak mungkin sama persis seperti yang dialami oleh para pengembara sebelumnya. Peta atau kesempurnaan itu dijelaskan oleh para guru sufi pada masa awal, dan kekurangmampuanpun seorang muslim untuk mensistematisirnya akan melahirkan golongan-golongan yang cukup banyak.
           Dan pada awal-awalnya pengertian tariqat yang dipraktekkan secara individual. Namun lama kelamaan lahirlah menjadi bentuk kelembagaan atau organisasi kesufian, dimulai sejak abad 12 M. ketika muncul gerakan organisasi kesufian, maka tariqat tidak lagi bermakna sempit yaitu ‘jalan atau metode untuk mencapai tingkat terdekat disisi Allah’, melainkan mengandung makna kesatuan jamaah sufi denagan para pengikutnya. Yang mana didalamnya terdepat seorang ulama yang menjadi pemimpin. Pemimpin itu dinobatkan sebagai murysid (guru atau pembimbing). Dimana Fungsi seorang pendiri tarekat adalah memberikan ciri khas pada tarekatnya dan membangun komunitas. Mereka mengembangkan atau membangun ajaran dan praktik ibadah yang berbeda dengan tarekat lain. Mereka merumuskan dan mengajarkan suatu metode mendekatkan diri kepada Allah yang tak sama dengan tarekat lain. Karena peran-peran inilah mereka disebut sebagai pendiri tarekat terentu.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tarekat ?
2. Bagaimana sejarah lahirnya tarekat ?
3. Bagaimana hubungan tarekat dengan tasawuf ?
4. Bagaimana tata cara pelaksanaan tarekat ?
5. Tarekat apa saja yang berkembang di Indonesia ?


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tariqat
           Istilah tariqat berasal dari kata thariqah yang artinya jalan, metode, atau cara. Ada yang menyebutnya tarikat atau tarekat. Dalam lingkup tasawuf, tariqat artinya jalan yang harus ditempuh oleh setiap calon sufi untuk mencapai tujuannya. Yaitu berada dimaqam terdekat disisi Allah.
        Ada juga yang menyebut bahwa syariat itu merupakan amaliyah yang harus ditempuh untuk menuju kesempurnaan ibadah (hakikat). Sedangkan untuk mencapai maqam ma’rifat, maka seseorang harus menempuh tariqat. Meskipun demikian, antara syariat, tariqat, hakikat, dan ma’rifat tidak dapat dipisahkan.
         Didalam tariqat mencakup riyadhah-riyadhah (latihan-latihan) atau ajaran praktis tasawuf. Tetapi perlu diketahui bahwa riyadhah yang ideal adalah tetap berpegang pada ajaran Rasulullah saw. Artinya jangan sampai menyimpang dari syariat. Jika menyimpang, maka berarti bid’ah. Sedang ulama sufi sangat menjaga agar mereka tidak terjebak kepada bid’ah.
        Tariqat (jalan) yang populer dikalangan ulamah sufi misalnya taubat, zuhud, sabar, ikhlas, mahabbah, faqir, dan ma’rifat. Disamping itu masih banyak bagian-bagian ‘jalan’ yang juga perlu ditempuh. Semuanya merupakan riyadhah untuk pensucian jiwa. Menurut tradisi sufisme, jika seseorang telah menempuh tariqat secara baik maka ia tidak lagi disebut sebagai calon sufi, namun sudah menjadi sufi yang aktual.
        Demikianlah pada awal-awalnya pengertian tariqat yang dipraktekkan secara individual. Namun lama kelamaan lahirlah menjadi bentuk kelembagaan atau organisasi kesufian, dimulai sejak abad 12 M. ketika muncul gerakan organisasi kesufian, maka tariqat tidak lagi bermakna sempit yaitu ‘jalan atau metode untuk mencapai tingkat terdekat disisi Allah’, melainkan mengandung makna kesatuan jamaah sufi denagan para pengikutnya. Yang mana didalamnya terdepat seorang ulama yang menjadi pemimpin. Pemimpin itu dinobatkan sebagai murysid (guru atau pembimbing). Sebutan Murysid merupakan sebutan dari daerah persia. Di India disebut Vir, sedangkan di Afrika umumnya disebut Muqaddam. Adapun jamaah yang dibimbing disebut murid artinya yang menghendaki ajaran atau bimbingan.[1]
         Al Murysid disebut juga syekh. Seorang mursyid mendapat legalitas dari jamaahnya atau limpahan wewenang untuk tugas sebagai pembimbing. Tidak sembarang orang bisa menduduki jabatan mursyid dalam kelembagaan tariqat ini.
      Seorang mursyid mengangkat wakilnya, yang disebut badal (pengganti) atau khalifah (wakil).  Persyaratan orang bisa menjadi badal atau khalifah jika ia ditunjuk oleh mursyid. Dalam menunjuk wakil, seorang mursyid pun mempertimbangkan beberapa syarat.
          Sedangkan orang yang ingin menjadi murid atau anggota jamaah tariqat, ia harus melalui ikrar sebagai janji kesetiaan dan kepatuhan yang harus ditempuh oleh sang murid. Ikrar pada awal bergabung dalam lembaga tariqat disebut bai’ah atau bai’at. Pada saat itulah mursyid menyampaikan ‘rahasia’ suluk dan amalannya.
         Tariqat dalam makna lembaga (organisasi) ini bertumpuh pada tiga ciri yang sangat menonjol. Pertama ialah adanya hubungan antara mursyid dengan murid. Di mana murid harus disiplin dalam melakukan riyadhah-riyadhah, suluk atau amalan yang telah ditentukan. Kedua, ialah silsilah dari siapa tariqat itu berasal dan diajarkan. Oleh karena itu setiap pengikut tarikat harus mengetahui silsilah akan tariqat itu sendiri. Sebab tariqat diyakini berasal dari Tuhan, maka sudah tentu temfat yang paling atas dalam silsilah ini adalah Tuhan sendiri, kemudian turun ke Rasulullah saw. Lalu kepada para sahabat. Kemudian diwariskan kepada tabiin dan terus kebawah hingga kyai. Sehingga terjadilah susunan mata rantai yang dianggapnya kuat. Kyai atau sang mursyid boleh mengangkat dan member ‘ijazah’ kepada muridnya yang dianggap mumpuni dan setia.
           Selain silsilah, tariqat memiliki bentuk dzikir yang berbeda-beda yang harus dibaca dalam acara ritual mereka. Setiap tariqat memiliki bentuk dan cara masing-masing bagaimana dzikir itu harus dibaca. Selanjutnya ada ajaran dan bai`at.
         Ada tariqat tertentu yang melakukan dzikir secara lisan, sementara yang lain hanya dalam hati saja (dzikir qalbi). Namun ada juga yang dzikir secara rahasia, yang disebut dzikir sirri. Lafal-lafalnya pun berbeda-beda. Ada jamaah tariqat yang membaca kalimat la ilaha illallah. Namun ada pula yang cukup membaca Allah. Sementara ada juga yang membaca hu.
          Tariqat mempunyai gaya tarik yang sangat kuat karena beberapa factor. Pertama adalah factor agama, yaitu ketika sufisme menawarkan pada umat bahwa sufisme menuntun para pengikutnya menuju ‘pertemuan dengan Tuhan.
          Beberapa tariqat secara kelembagaan yang sangat terkenal misalnya tariqat Qadiriyah yang lahir sejak abad ke 12 M. tariqat ini dihubungkan dengan Syekh Abdul Qadir Al Jailani (wafat 1161 M) di baghdad. Tarikat ini berpengaruh di Irak, Turki, Turkestan, Sudan, China, India, dan Indonesia. Selain itu dikenal juga Tariqat Rifa’iyah yang dihubungkan dengan Syekh ahmad Rifa’I (wafat tahun 1182 M). Pengaruh ajaran ini menyebar di Irak dan berkembang di Mesir. Kemudian adapula Tariqat Syadziliyah, yang dihubungkan dengan Syekh Asy Syadzili (wafat 1258 M) di Mesir. Tariqat ini berkembang di Mesir, Afrika utara, Syiria, dan beberapa negeri Arab lainnya.
        Sementara itu Syekh Maulana Jalaludin ar-Rumi (wafat tahun 1389 M) di Turki, mendirikan jamaah tariqat yang disebut Tariqat Maulawiyah. Lalu Syekh Bahauddin An Naqsabandi yang wapfat di Bukhara tahun 1389 M mendirikan tarikat yang disebut Tariqat Naqsabandiyah. Tariqat ini mempunyai pengikut di kawasan Asia tengah, Turki, India, China, dan Indonesia.
         Ada pula tariqat Syatariyah, yang dihubungkan dengan Syekh Abdullah Asy-Syatari yang wafat di India Tahun 1236 M. dan banyak dianut di India dan Indonesia.

B. Sejarah Lahirnya Tarekat
        CARL W. Ernst dalam buku the shambala guide to Sufism (shambala: boston & London, 1997) menuturkan tentang asal-usul lahirnya subuah tarikat. Ia menyebutkan, “what was at first a fairly private movement of like- minded people in the early Islamic centries eventually grew into a major social force that permeated most muslim societies”.
         Pada awalnya, tarekat itu merupakan bentuk praktek ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu. Misalnya rasulullah mengajarkan wirid atau zikir yang perlu diamalkan oleh ali ibn abi thalib. Atau nabi Muhammad SAW. Memerintahkan kepada sahabat A untuk banyak mengulang kalimat tahlil dan tahmid. Pada sahabat B, Muhammad memerintahkan untuk banyak membaca ayat tertentu dari surat dalam al-qur’an. Ajaran-ajaran khusus rasulullah itu disampaikan sesuai dengan kebutuhan penerimanya, terutama berkaitan dengan factor psikologis.
          Sebagaimana yang dikutip oleh Rosihon Anwar, dimana Harun Nasution mengatakan bahwa setelah Al-Ghazali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, dantasawuf berkembang di dunia Islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat.[2]
        Pada tahapan selanjutnya, ajaran khusus Rasulullah itu lantas disebarkan secara khusus pula oleh beberapa sahabat penerima. Meski tak semua orang dianggap pantas menerima ajaran tertentu tersubut, namun biasanya jumlah penerima biasanya selalu bertambah. Hingga akhirnya menjadi komunitas tertentu, kekuatan social utama yang mampu masuk hamper di seluruh komunitas masyarakat muslim. Ia menjadi perkumpulan khusus, atau lahir sebuah tarekat. Marshall Hodgson mengatakan “a traditional of intensive interiorization reexteriorized its result and was finally able to provide an important basis for social order (sbuah tradisi, yang pada awalnya secara intensif melakukan penghiasan diri dan memperbaiki jiwa itu keluar, akhirnya mampu menyediakan landasan yang kuat bagi keturunan social)”.
           Jika proses lahirnya sebuah tarekat hanya merupakan proses sambung-menyambung dari suatu ajaran khusus, lantas apa peran seseorang yang disebut sebagai pendiri tarekat? Mengapa orang semisal Naqsabandi, Jalaluddin Rumi, dan alsadzili disebut sebagai pendiri jika peran mereka sekedar sebagai salah satu dari rangkaian silsilah ajaran?
        Untuk membuat ajaran yang gambling tentang kontribusi yang mereka perankan sehingga pantas disebut sebagai pendiri terekat, agaknya perlu kita bawa kepada kasus di sekitar kita. Di Indonesia ada berpuluh-puluh pondok pesantren, pondok Darussalam gontor dan pondok lirboyo adalah diantaranya. Dua pondok ini masing-masing mempunyai cirri khas. Meski keduanya sama-sama mengajarkan tentang islam, namun metode yang digunakan berbeda.
         Kedua pondok tersebut juga memiliki tekanan ajran yang berbeda. Gontor terkenal dengan penekanan pada kemampuan bercakap dengan bahasa arab dan inggris. lirboyo, meski giat mengajarkan bahasa arab, namun bukan pada kemampuan percakapan yang diutamakan. Lirboyo kuat dalam penguasaan grammer atau tata bahasa, ia mendidik muridnya untuk ahli dalam ilmu nahwu dan sharaf.
         Pebedaan antara satu tarekat dengan tarekat yang lain diantaranya adalah seperti perbedaan antara satu pondok dengan pondok lainya. Tarekat tertentu mengajarkan para pengikutnya untuk mengamalkan zikir jahr ( berzikir dengan suara keras), tarekat lain lebih menyukai menggunakan zijir khafiy (berzikir dengan suara pelan).
      Fungsi seorang pendiri tarekat adalah memberikan cirri khas pada tarekatnya dan membangun komunitas. Mereka mengembangkan atau membangun ajaran dan praktik ibadah yang berbeda dengan tarekat lain. Mereka merumuskan dan mengajarkan suatu metode mendekatkan diri kepada Allah yang tak sama dengan tarekat lain. Karena peran-peran inilah mereka disebut sebagai pendiri tarekat terentu.
         Menurut Ernst, nama-nama tarekat itu lahir setelah munculnya figur terkenal dalam jaringan pengamalan ritual tertentu, yang ketokohanya mereka mampu membuat organisasi tarekat itu identik dengan namanya. Suhrawardiyah diberi nama berdasarkan tokoh Abu Hafs al-Suhrawardi, Ahmadiyah mengambil nama tokoh Ahmad al-Badawi, dan syadziliyah mengikuti Abu al-Hasan al-syadzili.
            Para pendiri itu, lanjut Ernst, umumnya adalah para guru yang telah berhasil menjadikan tatanan dari ajaran-ajaran dan praktik-praktik tertentu dalam sebuah kodifikasi dan institusi atau organisasi tertentu. Meski, dalam banyak kasus, reputasi mereka sebagai orang suci jauh melampaui lingkaran perkumpulan tertentu itu. Dan tarekat dalam definisi Ernst adalah sekelompok orang yang secara bersama-sama menjalankan ajaran atau disiplin tertentu dalam hidup mereka.
            Terakhir Muhammad al-Sanusi al-Idrsi, seorang ahli tasawuf dari afrika utara, pernah mendata empat puluh tarekat yang cukup terkenal. Menurutnya masing-masing tarekat itu memiliki metode zikir, meditasi dan penekanan psikologi yang berbeda dalam catatan mengenai beragamnya tarekat tersebut, al-Sanusi berkesimpulan bahwa.
          “the way to god most high are many, so some say that they are as numerous as the souls of human beings. Nevertheless, although they have many branches, they are in reality one, sincethe goal of all is one”
(Jalan menuju tuhan yang maha besar itu sungguh sangat banyak. Karena itulah, banyak orang yang mengatakan bahwa jumlah jalan menuju tuhan itu sebanyak jumlah jiwa manusia. Hanya saja, meski jalan menuju tuhan itu beraneka ragam, pada hakekatnya ia hanyalah satu, karena tujuan dari semua dari semua jalan itu adalah satu, yaitu tuhan itu sendiri).

C. Hubungan Tarekat dengan Tasawuf
            Sebagaimana yang telah dikutip oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar bahwa tasawuf secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri ini biasanya dilakukan di bawah bimbingan seorang guru. Ajaran-ajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. merupakan hakekat tarekat yang sebenarnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. sedangkan terekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Gambaran menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang telah berkembang dengan beberapa variasi tertentu, sesuai dengan spesifikasi yang di berikan seorang guru kepada muridnya.[3]

D. Tata Cara Pelaksanaan Tarikat
a. Zikir, yaitu ingat yang terus-menerus kepada Allah dalam hati serta menyebutkan namanya dengan lisan. Zikir ini berguna sebagai alat kontrol bagi hati, ucapan dan perbuatan agar tidak menyimpang dari garis yang sudah ditetapkan Allah.
b. Ratib, yaitu mengucap lafal la ilaha illa Allah dengan gaya, gerak dan irama, tertentu.
c. Muzik, yaitu dalam membacakan wirid-wirid dan syair-syair tertentu diiringi dengan bunyi-bunyian (instrumentalia) seperti memukul rabana.
d. Menari, yaitu gerak yang dilakukan mengiringi wirid-wirid dan bacaan–bacaan tertentu untuk menimbulkan kekhidmatan.
e. Bernafas, yaitu mengatur cara mengatur bernafas pada waktu melakukan zikir yang tertentu.

E. Tarekat yang Berkembang di Indonesia
            Sebagai bentuk tasawuf yang melembaga, tarekat ini merupaka kelanjutan dari pengikut-pengikut sufi yang terdahulu. perubahan tasawuf ke dalam tarikat sebagai lembaga dapat dilihat dari perseorangannya, yang kemudian berkembang menjadi tarikat yang lengkap dengan simbol-simbol dan unsurnya sebagaimana disebut di atas. Tarekat shuhrawardiyah (w.1168M.) misalnya dinisbahkan pada Diya al-Din abu najib al-suhrawardi.qadariyah dinisbahkan pada apdul qadir jaelani(w.1166 H. ) rifaiyah dinisbahkan pada ahmad ibn al-rifa’I (w.1182), jasfiyah dinisbahkan pada ahmad al-jasafi (w.1166M.) sadziliyah dinisbahkan pada abu madyan shuhaib ( w.1258 ), Mauliyah dinisbahkan pada jalaludin rumi (w.1273).
          Dari sekian banyak aliran tarikat tersebut dapet sekurang-sekurangnya tujuh aliran tarikat yang berkembang di Indonesia, yaitu tarekat Qadariyah, Rifaiyah, Naqsyabandiyah, Sammaniyah, Khalwatiyah, Al-hadad, dan tarikat Khalidiyah.
            Tarekat Qadiriyah didirikan oleh syaikh Abdul Qadir jaelani (1077-1166 ) dan ia sering pula di sebut al-jilli. Tarekat ini banyak tesebar di dunia timur,tiongkok, sampe ke pulau jawa. Pengaruh tarekat ini cukup banyak meresap di hati masarakat yang di turunkan lewat bacaan manaqib pada acara-acara tertentu. Naskah asli manaqib ditulis dalam bahasa arab. Berisi riwayat hidup dan pengalaman sufi Abdul Qadir Jaelani sebanyak emfat puluh episode. Manaqib ini dibaca dengan tujuan agar mendapatkan berkah dengan sebab keramatnya.
               Selanjutnya tariqat Rifa’iyah didirikan oleh Syaik Rifa’i. nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ali bin Abbas. Meninggal di umm Abidah pada tanggal 22 jumadil awal tahun 578 H. bertepatan dengan tanggal 23 September tahun 1106 M. dan ada pula yang mengatakan bahwa ia meninggal pada bulan rajab tahun 512 H. bertepatan dengan bualan November tahun 1118 M. di Qariyah Hasan. Tareqat ini banyak tersebar di daerah Aceh, Jawa, Sumatera Barat, Sulawesi, dan daerah-daerah lainnya.
            Ciri tarekat ini adalah penggunaan tabuhan rabana dalam wiridnya, yang diikuti dengan tarian dan permainan debus, yaitu menikam diri dengan sepotong senjata tajam yang diiringi dengan dzikir-dzikir tertentu. Permainan debus ini berkembang pula di daerah Sunda, khususnya Banten, Jawa Barat.
          Adapun tarikat Naqsyabandi yang berarti lukisan, karena ia ahli dalam memberikan lukisan kehidupan yang gaib-gaib. Tarekat ini banyak tersebar di Sumatera, Jawa, maupun Sulawesi. Ke daerah Sumatera Barat, tepatnya daerah Minangkabau, tarekat ini dibawa oleh Syaik Ismail al-Khalidi al-Kurdi, sehingga dikenal dengan sebutan tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Amalan tarekat ini tidak banyak dijelaskan ciri-cirinya. [4]
          Selanjutnya tareqat Samaniyah didirikan Syaik Saman yang meninggal dalam tahun 1720 di Madinah. Tareqat ini banyak tersebar di aceh, dan mempunyai pengaruh yang dalam daerah ini, juga di Palembang, dan daerah lainnya di Sumatera. Di Jakarta tarekat ini juga sangat besar pengaruhnya, terutama di daerah pinggiran kota. Di daerah Palembang orang banyak yang membaca riwayat Syaik Saman sebagai tawasul untuk membawa berkah.
         Ciri tarekat ini zikirnya dengan suara keras dan melengking, khususnya ketika mengucapkan lafadz lailaha illa Allah. Juga terkenal dengan nama ratib saman yang hanya mempergunakan perkataan ‘hu’, yang artinya Dia Allah. Syaik Saman ini juga mengajarkan agar memperbanyak shalat dan dzikir, kasih pada fakir miskin, jangan mencitai dunia, menukar akal basyariyah dengan akal robaniyah, beriman hanya kepada Allah dengan tulus ikhlas.
           Selanjutnya tarekat Khalwatiyah didirikan oleh Zahiruddin (w. 1397 M) di Khurasan dan merupakan cabang dari tarekat Suhrawardi yang didirikan oleh Abdul Suhrawardi yang meninggal tahun 1167 M. Tarekat Khalwatiyah ini mula-mula tersiar di Banten oleh Syaik Yusuf Al-Khalwati al-Makasari pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Tarekat ini banyak pengikutnya di Indonesia, dimungkinkan karena suluk dari tarekat ini sangat sederhana dalam pelaksanaannya. Untuk membawa jiwa dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi melalui tujuh tingkat, yaitu peningkatan dari nafsu amarah, lawwamah, mulhamah, muthmainnah, radhiyah, mardiyah, dan nafsu kamilah.
         Adapun tarekat al-Haddad didirikan oleh Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad. Ia lahir di Tarim, sebuah kota yang terletak di Hadramaut pada malam Senin, 5 Safar tahun 1044 H. ia pencipta ratib haddad dan dianggap sebagai salah seorang wali qutub dan Arifin dalam ilmu tasawuf. Ia banyak mengarang kitab-kitab dalam ilmu tasawuf, di antaranya kitab yang berjudul Nashaihud Diniyah (Nasihat-nasihat agama), dan al-Mu’awanah fi suluk Tharik Akhirah (Panduan mencapai hidup di akhirat). Tarekat Haddad banyak dikenal di Hadramaur, Indonesia, India, Hijaz, Afrika Timur, dan lain-lain.
          Selanjutnya tarekat Khalidiyah adalah salah satu cabang dari tarekat Naqsyabandiyah di Turki, yang berdiri pada abad XIX. Pokok-pokok tarekat Khalidiyah dibangun oleh syaikh Sulaiaman Zuhdi al-Khalidi. Tarekat ini berisi tentang adab dan dzikir, tawasul,dalam tarekat, adab suluk, tentang saik dan maqamnya, tentang ribath dan beberapa fatwa pendek dari Syaikh Sulaiman al-Zuhri al-Khalidi mengenai beberapa persoalan yang diterima dari bermacam-macam daerah. Tarekat ini banyak berkembang di Indonesia dan mempunyai Syaikh Khalifah dan Mursyid yang diketahui dari beberapa surat yang berasal dari Banjarmasin dan daerah-daerah lain yang dimuat dalam kitab kecil yang berisi fatwa Sulaiman az-Zuhri Al-Khalidi.


BAB III
KESIMPULAN

           Istilah tariqat berasal dari kata thariqah yang artinya jalan, metode, atau cara. Ada yang menyebutnya tarikat atau tarekat. Dan adapun tarikat adalah suatu jalan yang di tempuh oleh para sufi menuju tingkat fana`fillah. Dimana pada awalnya, tarekat itu merupakan bentuk praktek ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu dan ungsi seorang pendiri tarekat adalah memberikan cirri khas pada tarekatnya dan membangun komunitas. Mereka mengembangkan atau membangun ajaran dan praktik ibadah yang berbeda dengan tarekat lain. Mereka merumuskan dan mengajarkan suatu metode mendekatkan diri kepada Allah yang tak sama dengan tarekat lain. Karena peran-peran inilah mereka disebut sebagai pendiri tarekat terentu. Dan unsur-unsur dalam tarekat terdiri dari: Mursyid atau guru, salik atau murid, silsilah ilmunya, ajaran dan bai`at.

        Dimana tarekat dalam tasawuf adalah aliran atau cabang-cabang tasawuf yang dikembangkan oleh orang-orang tertentu setelah mendapatrestu dari tasawuf atau tarekat merupakan tempat belajar sebelumnya dan adapun tata cara dalam melaksanakan tarekat yaitu dengan zikir, ratib, musik, menari, bernafas. Dan dari sekian banyak aliran tarikat tersebut dapet sekurang-sekurangnya tujuh aliran tarikat yang berkembang di Indonesia, yaitu tarekat qadariyah, rifaiyah, naqsyabandiyah sammaniyah, khalwatiyah,al-hadad, dan tarikat khalidiyah.

_________________________



[1] Ibnu Jabar ar-Rummi,Mendaki Tangga Ma’rifat, Mitrapress, 2006. hal 53-57
[2] Rosihon Anwar,Akhlaq Tasawuf.CV Pustaka Setia.Bandung:2010.hal 310
[3] Rosihon Anwar,Akhlaq Tasawuf.CV Pustaka Setia.Bandung:2010.hal 308
[4] Abuddin Nata, Akhlak tasawuf PT Grafindo Persada, Jakarta 2010 hlm. 273-277


DAFTAR PUSTAKA

Ar-Rumi,Jabar Ibn.2006.Mendaki Tangga Ma`rifat.Jakarta:Mitrapress.
Anwar,Rosihon M.Ag.2010.Akhlak Tasawuf.Bandung:CV. Pustaka Setia.
Natta,Abuddin.2010.Akhlak Tasawuf.Jakarta:PT. Grafindo.
Simuh.2002.Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Najib, Ahmad.2002.Tarekat tanpa Tarekat.Jakarta:PT Serambi Ilmu Semesta.
Mustofas,A.1999.Akhlak Tasawuf.Bandung.CV Pustaka Setia.

0 komentar:

Poskan Komentar